Banyak orang bertanya-tanya kenapa kelas menengah terjepit padahal angka pertumbuhan ekonomi nasional sering kali diklaim menunjukkan tren positif. Fenomena ini menjadi salah satu topik berita ekonomi viral hari ini yang paling banyak diperbincangkan hangat di masyarakat. Di satu sisi, indikator makroekonomi tampak stabil, namun di sisi lain, jutaan masyarakat kelas menengah justru merasa hidup mereka semakin berat dan penuh kecemasan finansial.
Mengapa jurang ketimpangan ini bisa terjadi? Mari kita bedah faktor penyebab, data riil di lapangan, serta dampaknya terhadap kelangsungan ekonomi domestik kita.
---
Kenapa Kelas Menengah Terjepit Padahal Sektor Lain Tumbuh?
Secara teori, pertumbuhan ekonomi seharusnya membawa dampak kesejahteraan yang merata. Namun kenyataannya, kelas menengah di Indonesia justru mengalami penyusutan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 9,48 juta warga kelas menengah di Indonesia tercatat turun kelas dalam kurun waktu lima tahun terakhir [4]. Tren penurunan ini terus berlanjut secara mengkhawatirkan. Jumlah kelas menengah Indonesia menyusut drastis dari 57,3 juta jiwa pada tahun 2021 menjadi hanya 46,7 juta jiwa pada tahun 2025 [1]. Hal ini berarti proporsi kelas menengah dalam total populasi nasional anjlok dari 21,5% menjadi hanya 16,6% [1].
Salah satu alasan utama mengapa posisi mereka sangat rentan adalah karena mereka berada di area "abu-abu". Kelompok ini memiliki penghasilan yang pas-pasaran untuk memenuhi kebutuhan hidup perkotaan, namun mereka dianggap tidak cukup miskin untuk mendapatkan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah [4]. Akibatnya, ketika terjadi guncangan ekonomi, mereka harus bertahan sepenuhnya dengan kekuatan sendiri tanpa adanya jaring pengaman sosial.
---
Fenomena "Makan Tabungan" dan Tekanan Biaya Hidup
Untuk menyiasati kebutuhan hidup yang terus melonjak, banyak keluarga kelas menengah yang terpaksa melakukan fenomena "makan tabungan" [1][4]. Gaji bulanan yang diterima seolah-olah hanya menumpang lewat karena langsung habis tersedot untuk membayar berbagai pos pengeluaran wajib yang harganya terus merangkak naik.
Beberapa faktor utama yang menekan daya beli kelas menengah antara lain:
- Kenaikan Harga BBM dan Energi: Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) langsung memicu efek domino terhadap kenaikan harga barang pokok dan biaya transportasi [1].
- Tingginya Suku Bunga: Suku bunga yang tinggi membuat cicilan rumah (KPR) atau kendaraan bermotor menjadi jauh lebih berat, yang pada akhirnya meningkatkan risiko turun kelas [1].
- Jeratan Pinjaman Online (Pinjol): Demi menutup defisit anggaran bulanan akibat biaya hidup yang tidak sebanding dengan pendapatan, tidak sedikit masyarakat yang terpaksa beralih ke pinjaman online [4]. Dalam kondisi yang semakin terdesak, sebagian orang bahkan terjebak dalam lingkaran keuangan yang merusak seperti tergiur mencari keuntungan instan lewat situs SLOT TERPERCAYA↗ demi bertahan hidup.
---
Pergeseran Perilaku Belanja dan Tren Frugal Living Paksaan
Tekanan ekonomi yang kian nyata ini pada akhirnya mengubah perilaku konsumen kelas menengah secara drastis. Jika beberapa tahun lalu pusat perbelanjaan dan restoran selalu dipadati pengunjung yang membawa banyak kantong belanjaan, kini pemandangannya sudah jauh berbeda [2].
Masyarakat kini cenderung menerapkan gaya hidup hemat atau frugal living, bukan karena pilihan estetika, melainkan karena terpaksa oleh keadaan ekonomi [2]. Beberapa bentuk penyesuaian perilaku belanja yang kini banyak dijumpai antara lain:
- #Membawa bekal makanan dari rumah ke tempat kerja alih-alih membeli di luar [2].
- #Membatalkan langganan platform hiburan digital atau streaming bulanan [2].
- #Menunda pembelian barang-barang sekunder dan tersier yang sebenarnya mereka inginkan [2].
- #Lebih sering membandingkan harga secara detail dan berburu diskon besar-besaran sebelum memutuskan membeli barang [2].
Untuk menganalisis pola konsumsi dan pergeseran daya beli ini secara akurat, para pengamat sering kali merujuk pada berbagai kompilasi data statistik, mirip dengan bagaimana para analis memantau pergerakan angka dalam DATA SDY↗ untuk melihat tren yang konsisten secara berkala.
---
Faktor Struktural: Industri Manufaktur Loyo dan Warisan Pandemi
Meskipun pemerintah sering menunjuk pandemi Covid-19 sebagai pemicu utama kemunduran ekonomi ini [4][5], para ekonom menilai persoalannya jauh lebih kompleks dan bersifat struktural.
Sektor manufaktur dalam negeri yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja kelas menengah kini kondisinya kian loyo [1]. Ketika sektor industri melemah, lapangan pekerjaan dengan upah layak menjadi semakin langka. Akibatnya, jurang ketimpangan sosial dan ekonomi di Indonesia justru semakin melebar [1]. Lapangan kerja yang tersedia saat ini didominasi oleh sektor informal dengan produktivitas rendah dan jaminan kesejahteraan yang sangat minim.
---
Strategi Bertahan untuk Menghindari Middle-Class Trap
Agar tidak terus terjebak dalam tekanan finansial yang berat, masyarakat kelas menengah perlu melakukan langkah-langkah mitigasi mandiri yang taktis [6]:
- Evaluasi dan Susun Strategi Keuangan: Jangan hanya fokus bekerja keras tanpa memiliki peta jalan keuangan yang jelas [6]. Catat setiap pengeluaran sekecil apa pun untuk mengidentifikasi kebocoran anggaran.
- Miliki Tujuan Menabung yang Jelas: Menabung tanpa arah sering kali membuat uang tabungan tersebut mudah terpakai untuk hal-hal konsumtif [6]. Tetapkan tujuan jangka panjang seperti dana darurat, dana pendidikan anak, atau persiapan masa pensiun.
- Diversifikasi Pendapatan: Di tengah ketidakpastian kerja di sektor formal, memiliki keterampilan tambahan (side hustle) dapat menjadi penyelamat ketika sumber pendapatan utama mengalami gangguan.
Kesimpulan
Fenomena kelas menengah yang terjepit membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi makro yang tinggi belum tentu mencerminkan kesejahteraan riil di tingkat rumah tangga. Tanpa adanya kebijakan struktural yang berpihak pada penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pengendalian harga kebutuhan pokok, kelompok yang menjadi motor penggerak ekonomi ini akan terus menyusut.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga merasakan dampak dari tekanan ekonomi ini dalam kehidupan sehari-hari? Mari mulai perbaiki strategi keuangan keluarga kita sejak hari ini agar daya tahan finansial kita tetap terjaga di tengah situasi yang tidak menentu.
---
Sources
[1] Nasib Kelas Menengah RI, Mesin Ekonomi yang Kini Tergencet — https://scope.sindonews.com/artikel/769/nasib-kelas-menengah-ri-mesin-ekonomi-yang-kini-tergencet [2] Fenomena "Frugal Living" dan Kelas Menengah Tertekan — https://www.uinjkt.ac.id/id/fenomena-frugal-living-dan-kelas-menengah-tertekan [4] Nasib jadi kelas menengah di Indonesia – Banting tulang, makan tabungan, dan dilupakan — https://www.bbc.com/indonesia/articles/cy4l3z2e8xro [5] Penyebab dan Dampak Penurunan Kelas Menengah RI — https://pajakku.com/artikel/apa-penyebab-dan-dampak-penurunan-jumlah-kelas-menengah-di-indonesia [6] Mengapa Banyak yang Terjebak Middle-Class Trap? Kenali 5 Penyebabnya — https://www.treasury.id/mengapa-banyak-yang-terjebak-middle-class-trap-kenali-5-penyebabnya

